SAATNYA YANG MUDA BERAKSI !!

SAATNYA YANG MUDA BERAKSI !!

Ekspedisi Penelusuran Situs Megalitikum di Lereng Hyang/Argopuro


Berawal dari diskusi ringan tentang kepedulian pemuda Bondowoso terhadap situs-situs Cagar Budaya yang tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Bondowoso, mulai dari dataran tinggi hingga ke daerah pemukiman penduduk. Diskusi yang dilakukan menghasilkan ide/inisiasi bagaimana upaya yang dapat dilakukan oleh para pemuda untuk melestarikan situs-situs cagar budaya yang ada di Kabupaten Bondowoso. Ide tersebut diantaranya adalah dengan melakukan perawatan situs, sosialisasi tentang pentingnya Situs Cagar Budaya kepada para juru pelihara dan masyarakat, memagari situs-situs, serta melakukan penelusuran terhadap keberadaan situs-situs yang masih tersembunyi.
Perjalanan dimulai dari ketidak sengajaan kami ketika berkunjung ke salah satu daerah di kaki Gunung Argopuro, tepatnya di Dusun Patirana, Desa Wonosari, Kecamatan Grujugan. Pada waktu itu kami bertemu dengan Bapak Astari salah satu sesepuh di desa tersebut. Beliau menyampaikan bahwa terdapat peninggalan jaman batu (megalitikum), yaitu setumpukan Batu Kenong yang berada di atas gunung. Dari sini, sedikit demi sedikit informasi mulai terkumpul.
Selanjutnya kami merencanakan perjalanan untuk menelusi keberadaan situs tersebut. Kami berkoordinasi dan meminta arahan kepada Bapak Hery Kusdarianto, S.S. selaku Kepala Seksi Kesejarahan dan Kepurbakalaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bondowoso.  Bapak Hery Kusdarianto sangat mendukung dan mengapresiasi aktivitas yang kami lakukan. Beliau menghimbau agar aktivitas yang kami lakukan tidak melanggar undang-undang dan peraturan yang berlaku. Selanjutnya Bapak Hery mengarahkan agar kami berkoordinasi dengan Saudara M. Sukron Al-Haddad selaku warga lokal dan juru pelihara situs Patirana & Damar Wulan, Desa Wonosari, Kecamatan Grujugan agar ikut serta dalam ekspedisi penelusuran situs megalitikum di lereng Hyang/Argopuro.
Perjalanan dilakukan oleh rekan-rekan dari Komunitas Relawan Muda Bondowoso (RMB) dengan jumlah personil 7 orang yang dikoordinatori oleh Imam Safi'i. Pada tanggal 25 Maret 2018 jam 07.00 Wib, kami berkumpul di Parkiran Wisata Alam Patirana (P28). Selanjutnya kami melakukan tracking dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 3 km. Perjalanan ini ditempuh selama kurang lebih 3 jam dengan melewati kawasan perhutani dan perkebunan penduduk.

Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan beberapa penduduk yang melakukan aktifitas di lereng timur Pegunungan Argopuro, seperti mencari pakan ternak, bercocok tanam dan mencari madu hutan. Medan yang kami lalui terbilang cukup mudah karena sebagian jalur sudah berupa jalan setapak. Selain itu jalur yang kami lalui berupa tanjakan dan turunan dengan elevasi (sudut kemiringan) berkisar antara 15 - 35 derajat.
Sesampainnya di puncak punggungan yaitu Area Perhutani Petak 81 (P81) dengan ketinggian 1.043 mdpl kami istirahat sejenak sembari menikmati indahnya pemandangan yang terbentang dari atas Lereng Pegunungan Argopuro. Keindahan tersebut mampu menghilangkan rasa lelah yang mulai menurunkan semangat kami.
Sekitar 15 menit kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju hutan yang lebih dalam. Adapun vegatasi hutan yang kami lalui berupa pepohonan besar hingga kecil serta hutan bambu yang sedikit membingungkan arah perjalanan kami. Di hutan bambu inilah yang diyakini sebagai letak keberadaan situs Batu Kenong. Kurang lebih 25 menit kami menyisir hutan bambu hingga akhirnya berhasil menemukan keberadaan situs tersebut.
 

 Setelah kami berhasil menemukan situs tersebut, kami melakukan pemetaan lokasi sekaligus mengklasifikasi dan identifikasi jenis situs tersebut. Hasil dari pemetaan yang kami lakukan menunjukkan bahwa lokasi situs berada di ketinggian 1.237 mdpl. Secara geografis situs ini terletak di Lereng Timur Pegunungan Hyang/Argopuro. Situs ini berada di punggungan gunung dan letaknya jauh dari pemukiman penduduk.
 Dari pengamatan yang kami lakukan mengidentifikasi bahwa situs tersebut terdiri dari beberapa Batu Kenong dan Menhir yang terletak dalam satu kawasan. Batu Kenong dan Menhir membentuk suatu formasi yang belum bisa kami analisa lebih dalam. Formasi tersebut terdiri dari 5 Batu Kenong dan 4 Menhir. Batu Kenong tersebut memiliki dimensi (ukuran) yang bervariasi. Batu Kenong terbuat dari 2 bahan yang berbeda yaitu 4 Batu Kenong dari batu paras/kars dan 1 Batu Kenong terbuat dari batu keras/andesit.  Sedangkan untuk Menhir juga memiliki dimensi (ukuran) yang berbeda pula. Menhir tersebut seluruhnya terbuat dari batu andesit.
Situs Batu Kenong ini banyak memiliki keunikan dan ciri khas yang berbeda dari situs Batu Kenong pada umumnya. Pasalnya, Situs Batu Kenong ini merupakan situs yang berada di dataran tinggi dan terletak di tengah hutan. Situs ini merupakan satu-satunya situs dengan formasi Batu Kenong yang satu lokasi dengan Situs Menhir. Selain itu, yang menjadi ciri kas/keunikan dari situs ini adalah adanya perbedaan salah satu batu kenong yang bahan pembuatnya berbeda dengan yang lainnya.

Hasil ekspedisi penelusuran ini membuktikan bahwa di Kabupaten Bondowoso banyak terdapat peninggalan cagar budaya yang patut kita lestarikan. Bondowoso merupakan kota dengan jumlah peninggalan Megalitikum terbanyak di Indonesia, yang memiliki sekitar 1.400 Situs Megalitikum yang tersebar di beberapa wilayah, salah satunya adalah situs yang ada di Lereng Argopuro ini. Situs ini merupakan aset yang sangat berharga dan sangat disayangkan jika keberadaan situs-situs tidak diketahui oleh masyarakat luas apalagi jika sampai hilang atau rusak. Kami berharap adanya kerjasama dan dukungan dari para pemuda, masyarakat, dan instansi terkait untuk saling bersinergi untuk melestarikan situs-situs Megalitikum agar tidak punah dan bisa dinikmati oleh anak cucu kita nanti.

"Masyarakat Peduli, Cagar Budaya Lestari"
Jangan beranjak, biar kami yang BERGERAK....!!
Salam Bethoh.....

~RMB We Can ~